Senin, Mei 26, 2008

Paspor Warga Sambas, Hingga Burung Garuda (2)

Selama beberapa hari kedepan saya selalu mencoba menelpon Mr. Albert, tetapi tak pernah diangkat. Yang membuat diriku kesal terjadi pada tanggal 1 April 2008 ketika Mr. Albert datang ke konsulat tetapi untuk mengurus hal yang berbeda yakni renew paspor atas nama Ana Nona Gatol yang merupakan paspor anak buahnya yang lain. Saya selip beberapa menit saja, tapi untungnya Mr. Albert bukannya mengambil tapi baru memasukkan berkas, sehingga paspor Ana Nona Gatol bisa kami tahan terlebih dahulu hingga Mr. Albert bertemu dengan saya. Terima kasih untuk bagian Imigrasi, karena bersedia bekerja sama.

Setelah kami punya kartu Truf, Mr. Albert tetap tidak mau datang juga, walau sekedar untuk mengambil paspor Ana Nona Gatol, dan keesokannya ia malah mengutus isterinya yang bernama Madamme Jane. Nyonya Jane pun berkata kalau Ana Nona Gatol bukanlah kliennya Mr. Albert tetapi klien nyonya Jane, walaupun mereka berdua adalah sepasang suami isteri tetapi beda perusahaan. Dalih saja pikirku. Dalam beberapa hari ke depan saya tetap bertatap muka dengan madamme Jane, tapi tuntutan saya hanya satu, panggil Mr. Albert untuk kemudian bisa saya lepas paspor Ana Nona Gatol.

Suatu ketika, saya penasaran untuk mengirimkan layanan pesan pendek kepada Mr. Albert, ternyata ada sedikit kemajuan. Ia membalas pesan pendek saya. Katanya memang benar kalau ia memegang HP Sdra. Oscar tetapi mengelak kalau dituduh memegang paspor Oscar. Lalu Mr. Albert meminta saya untuk bertemu bersama dengan Oscar, dia, dan saya sendiri di Police Station. Awalnya saya setuju, tapi pihak atasan tidak memberi izin. Akhirnya, pada tanggal 24 April 2008, saya hanya membuat report police saja tanpa ada kehadiran pihak Mr. Albert.

Kubu Mr. Albert dalam perkara paspor Ana Nona Gatol tidak selesai sampai di sini. Antara tanggal 21 April hinggal 6 Mei 2008 terjadi beberapa peristiwa, pertama mereka memanggil toke dari Ana Nona Gatol yang bernama Lim Kian Chai. Mereka marah-marah di hadapan saya… tidak masalah dan paspor tetap tidak bisa keluar. Kedua, Mereka memanggil seorang wanita yang nampak mewakili pihak toke Lim Kian Chai (mungkin peguam), paspor tetap tidak bisa keluar. Lalu, mereka meminta tolong kepada seorang kenalan baik dari pejabat di KJRI, paspor tetap tidak bisa keluar. Hingga akhirnya datang seorang warga Malay yang menjadi seorang Principal Secretary of Governor of West Kalimantan in Kuching, Sarawak.

Namanya En. Alim GA Mideh, ia memberikan sebuah kartu nama yang ada logo Burung Garudanya dan bertajuk “Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.” Pesan saya hanya satu untuknya, panggil Mr. Albert ke konsulat baru saya akan melepas paspor Ana Nona Gatol. Malamnya En. Alim mengirim pesan pendek ke saya. Ada sedikit kejanggalan dalam pesan pendek itu, yakni terlalu banyak tanda tanya. Saya sempat membalas satu kali. Ia segera membalas dengan banyak tanda tanya lagi dan ada satu pertanyaan yang sedikit menyudutkan. Tentu tidak saya balas karena khawatir dijadikan bahan laporan. Ternyata dugaan saya benar. Beberapa hari kemudian ia membuat laporan kepada pihak keluarga dari Ana Nona Gatol dengan tembusan kepada saya perihal pertemuan saya dengan En. Alim di konsulat dan percakapan singkat melalui layanan pesan pendek. Hal terakhir yang dilakukan oleh En. Alim adalah mengirimkan pesan pendek dengan No Indonesia +6281522567677 yang berisi bahwa ia akan memberitahu kawan pers di Borneo Tribune perihal KJRI Kuching yang telah menahan paspor WNI karena perselisihan antara pihak KJRI dengan salah satu agent pekerja.

Okelah lumayan manuver dari En. Alim, tapi sebenarnya pihak konsulat masih punya kartu Truf lagi perihal En. Alim, yakni tidak ada yang berhak mengangkat perwakilan dari Pemerintah Indonesia di luar negeri, bahkan seorang gubernur sekalipun, kecuali pihak Departemen Luar Negeri. Apa lagi telah memasang logo Burung Garuda di kartu namanya, padahal warga negara Malay. Sebagai perbandingan, atasan saya langsung, yang seorang Konsul, tidak bisa memasang logo Burung Garuda, hanya Konsul Jenderal atau Head of Consul saja yang bisa memasang logo tersebut. Ahh… pikir saya, di Indonesia burung garuda sudah tidak mempunyai bulu lagi, tetapi di luar negeri kibasan sayapnya menjadi lambang kuasa.

Last but not least, Oscar dan Isteri pulang ke Indonesia pada tanggal 20 Mei 2008 tanpa membawa sekeping “Ringgit” pun. Pihak Mr. Albert pun sama saja, hanya menghasilkan kerugian di mata client. Sekarang yang tersisa hanya secarik kartu nama dengan logo Garuda, teronggok di meja kerja saya.

Sabtu, Mei 17, 2008

Paspor Warga Sambas, Hingga Burung Garuda (1)

Hari itu, Selasa 25 Maret 2008, adalah hari saat saya masih belum terbiasa dengan pekerjaan di fungsi konsuler. Di sisi lain saya merasa kalau hari itu para TKI di Kuching membuat janji untuk melaporkan permasalahan pada hari yang sama, sehingga kasus-kasus menumpuk. Tapi ada dua atau tiga kasus yang patut menjadi perhatian, salah satunya adalah Oscar’s case. Dia datang bersama temannya, seorang pedagang batu akik di Kuching, yang bernama rahmat.

Dari percakapan keduanya saya mengetahui kalau Oscar dan Isterinya, yang merupakan warga Sambas, baru saja masuk ke Sarawak untuk kerja pada toke Mr. Hee dengan agent Mr. Albert. Menurut penuturan Oscar, awalnya ia dan isteri ditawari kerja di Kuching untuk jenis dan tempat kerjaan yang sama, tetapi setibanya di Malay justru ditawari kerja di Sibu pada sebuah gudang mie dan isterinya ditempatkan di wilayah lain. Lalu karena protes, Oscar dipindahkan ke Institut Memandu di Bintawa, Kuching. Mungkin agar lebih dekat dengan isteri walau no kontak dan keberadaan isterinya tidak diberi tahu. Kondisi ini membuat Oscar khawatir dan menginginkan isterinya dipulangkan saja ke Indonesia.

Akhirnya saya menghubungi agent Mr. Albert, ia mengatakan bahwa akan memberikan isteri Oscar kalau telah menerima ganti rugi dalam mensponsori kedatangan mereka berdua. Padahal menurut Oscar, biaya paspor dan transport ditanggung oleh Oscar pribadi dan bukan oleh agent. Namun demikian, atas tawaran bantuan dana dari Rahmat, Oscar setuju asalkan isterinya bisa kembali dan pulang ke Indonesia. Akhirnya disepakati dengan agent kalau akan membayar minggu depan. Kupikir ini settle.

Kemudian, tanggal 27 Maret 2008 tengah hari, Oscar mendatangi saya lagi. Dari wajahnya terlihat sebongkah amarah selaras dengan pengakuanya bahwa ia baru saja terkena tamparan dari Mr. Albert. Rupanya Oscar baru saja didatangi oleh Mr. Albert dan tidak hanya menampar, barang dalam tas beserta HP turut ditahan oleh Mr. Albert. Sang agent mengingkari janji untuk bertemu 1 minggu lagi.

Saat petang, hari yang sama, kami mendapat kabar tentang keberadaan isteri Oscar, yang bernama Rasmiati, bahwa ia telah melarikan diri dan sekarang berada di sebuah hotel di bilangan Satok, Kuching. Tak lama kemudian Rasmiati dievakuasi hingga sepasang suami isteri ini sudah berada di pondok openg dengan aman. Sekarang persoalan berganti menjadi bagaimana mendapatkan paspor mereka berdua. Paspor yang sangat berharga bagi warga Sambas untuk mencari nafkah di negeri jiran, dan juga bisa berharga bagi si agent jikalau dikemudian hari ada TKI illegal yang tiada paspor. not the end

Kamis, Mei 15, 2008

Petualangan Sang Pemimpi (2)

Ini adalah kabar tambahan,
Nona ratih menjalani ini sejak 9 Maret 2008 hingga di evakuasi oleh polis Bintulu dengan koordinasi pihak KJRI tanggal 23 April 2008. Setelah diselamatkan, sementara menunggu pihak KJRI Kuching untuk memproses pemulangan beserta proses hukum yang diperlukan untuk membawa pelaku-pelaku kejahatan Traficking In Person’s (TIP’s) ke pengadilan, nona Ratih tinggal di Pondok Openg, sebuah tempat di mana Warga Negara Indonesia Bermasalah (WNIB) berdiam. Selama di pondok openg, nona Ratih menceritakan kalau selama proses evakuasi terjadi hal yang menurut saya begitu buas, hal ini dilakukan oleh aktor evakuasi di Bintulu, yakni oknum dari polis diraja Malaysia yang bernama Insp. "Z." Sang inspektur ini, saat melakukan evakuasi justru membawa nona Ratih menginap di hotel dengan tujuan turut memetik bunga dalam vas. Walau demikian, nampak menjadi hal yang sulit untuk mengevakuasi jika tiada kerja sama dari pihak inspektur.
Namun, di pondok openg juga terjadi suatu hikmah, di sana sang ayam mencari pendamping hidup yang berani menjalani sisa hidupnya dengan damai walau duka acap mengancam. Akhirnya si nona melihat seorang pemuda tampan yang kuketahui sebagai pelaut non muslim. Saya sempat terkejut saat melihat pemuda ini menjalankan shalat.... Rupanya sang pemuda telah rela berpindah keyakinan demi menjadikan sang Pemimpi sebagai kekasih.
Pada tanggal 3 Mei 2008, nona Ratih telah dijemput oleh keluarganya untuk dibawa pulang ke Bandung guna dimintakan kesaksiannya dalam proses mengungkap jaringan TIP’s di Indonesia. Tim Kepolisian di Indonesia telah menangkap dan memeriksa salah satu tersangka TIP’s yaitu ibu Kokom, tetangga yang memberikan mimpi.

Senin, Mei 12, 2008

Petualangan Sang Pemimpi (1)

Hari itu Jum’at tanggal 25 April 2008, adalah hari yang ditunggu oleh umumnya staf KJRI Kuching. Hari ini adalah payday. Setiap raut wajah staf lokal tersungging senyum sumringah, demikian pun diriku. Hanya saja, saat memulai kerja rutin menunggu aduan yang akan masuk, saya teringat pesan dari senior saya bahwa akan datang ayam yang telah diselamatkan dari Bintulu. Ayam pun datang dan mimik wajahku menjadi tegang. Pakaiannya sopan, dengan kulit putih bersih, rambut di rebonding, dan tubuh seperti gitar Spanyol zaman kolonialisme. Dia memperkenalkan diri sebagai nona Ratih, atau sebut saja begitu.
Tak sulit untuk mengungkap semua kisah yang ia alami dengan apa adanya, karena memang pihak KJRI sudah beberapa kali saling contact untuk koordinasi mengevakuasi sang ayam. Nona Ratih berkata dengan suara pelan nampak letih namun pasti kalau ia datang ke Bintulu, Sarawak berdua bersama kakak tirinya yang bernama Entin Supartin dari rumahnya di Bandung. Awalnya ia ditawari kerja kedai oleh tetangganya yang bernama ibu Kokom, dengan gaji sebesar Rp.10 jt. Setelah tergiur dengan iming-iming gaji, nona Ratih dan nona Entin Supartin segera dibawa pergi ke Pontianak.
Setibanya di Pontianak, kedua wanita asal Bandung ini ternyata dijual dari satu orang ke orang lain, begini alurnya: pertama dijual ke seseorang yang bernama pak Daeng lalu kedua pada pak Thamrin. Kemudian oleh pak Thamrin diserahkan ke Adi memasuki Malaysia dan tiba di Hotel Quin In, Bintulu dekat sungai Sarawak. Disini nona Ratih berada dalam kuasa bos Cila, sebuah nama yang membuat orang geram. Akhirnya nona Ratih mengetahui kalau telah dijadikan ayam dan mau tidak mau melayani lelaki hidung belang yang datang atau mendatangi rumah lelaki hidung belang tersebut, inilah modusnya, dengan pelanggan kebanyakan warga Chines, lokal, Brunai, hingga Pakistan. Selama di Bintulu, nona Ratih dijanjikan diberikan gaji Rm. 2.000,- untuk 6 bulan kerja (jadi nona Ratih ini tidak memegang gaji sepeserpun, karena baru bekerja beberapa minggu), padahal, ini yang membuat bulu kuduk bergetar menahan iba, nona Ratih dalam sehari bisa melayani 7-10 lelaki. Jika nona Ratih tidak ingin kerja maka yang bersangkutan ditampar atau disabuk dengan ikat pinggang, jika sehari kurang dari jumlah target pelanggan lelaki hidung belang, nona Ratih tidak dikasih makan.
Wahh... ia mengakhiri kisah tragisnya sambil menahan tetes air diantara bola matanya yang nanar. not the end