Hari itu Jum’at tanggal 25 April 2008, adalah hari yang ditunggu oleh umumnya staf KJRI Kuching. Hari ini adalah payday. Setiap raut wajah staf lokal tersungging senyum sumringah, demikian pun diriku. Hanya saja, saat memulai kerja rutin menunggu aduan yang akan masuk, saya teringat pesan dari senior saya bahwa akan datang ayam yang telah diselamatkan dari Bintulu. Ayam pun datang dan mimik wajahku menjadi tegang. Pakaiannya sopan, dengan kulit putih bersih, rambut di rebonding, dan tubuh seperti gitar Spanyol zaman kolonialisme. Dia memperkenalkan diri sebagai nona Ratih, atau sebut saja begitu.
Tak sulit untuk mengungkap semua kisah yang ia alami dengan apa adanya, karena memang pihak KJRI sudah beberapa kali saling contact untuk koordinasi mengevakuasi sang ayam. Nona Ratih berkata dengan suara pelan nampak letih namun pasti kalau ia datang ke Bintulu, Sarawak berdua bersama kakak tirinya yang bernama Entin Supartin dari rumahnya di Bandung. Awalnya ia ditawari kerja kedai oleh tetangganya yang bernama ibu Kokom, dengan gaji sebesar Rp.10 jt. Setelah tergiur dengan iming-iming gaji, nona Ratih dan nona Entin Supartin segera dibawa pergi ke Pontianak.
Setibanya di Pontianak, kedua wanita asal Bandung ini ternyata dijual dari satu orang ke orang lain, begini alurnya: pertama dijual ke seseorang yang bernama pak Daeng lalu kedua pada pak Thamrin. Kemudian oleh pak Thamrin diserahkan ke Adi memasuki Malaysia dan tiba di Hotel Quin In, Bintulu dekat sungai Sarawak. Disini nona Ratih berada dalam kuasa bos Cila, sebuah nama yang membuat orang geram. Akhirnya nona Ratih mengetahui kalau telah dijadikan ayam dan mau tidak mau melayani lelaki hidung belang yang datang atau mendatangi rumah lelaki hidung belang tersebut, inilah modusnya, dengan pelanggan kebanyakan warga Chines, lokal, Brunai, hingga Pakistan. Selama di Bintulu, nona Ratih dijanjikan diberikan gaji Rm. 2.000,- untuk 6 bulan kerja (jadi nona Ratih ini tidak memegang gaji sepeserpun, karena baru bekerja beberapa minggu), padahal, ini yang membuat bulu kuduk bergetar menahan iba, nona Ratih dalam sehari bisa melayani 7-10 lelaki. Jika nona Ratih tidak ingin kerja maka yang bersangkutan ditampar atau disabuk dengan ikat pinggang, jika sehari kurang dari jumlah target pelanggan lelaki hidung belang, nona Ratih tidak dikasih makan.
Wahh... ia mengakhiri kisah tragisnya sambil menahan tetes air diantara bola matanya yang nanar. not the end
3 komentar:
selamat datang didunia blogger, ajang menumpahkan segalanya......termasuk kisah2 TKI di kucing.....maen2 ke pojok-waroengkopi.blogspot.com....boimlebon
ah kawan, lidahmu telah menghantarkan sebuah kisah dari negeri dongeng yang nyata .. dan ceira itu menelisik di telingaku yang hampir tuli, thanks kawan, mari suarakan kembali hasrat kita yang tertunda!
dunia ini butuh lidah-lidah yang berani menyuarakan kebobrokan, sebab mimpi tak selamanya indah. walaupun miris dan pahit terdengar oleh kawan-kawan kita. salam blogger dari wong alit
Posting Komentar